BERITA

Djoko Siswanto Akan Dilantik sebagai Dirjen Migas KESDM?

Djoko Siswanto. | Foto: Istimewa.

Eksplorasi.id – Kementerian ESDM pada pagi ini (Rabu, 28/3) akan melantik sejumlah pejabat di lingkungan Kementerian ESDM dan pimpinan di lingkungan SKK Migas. Pelantikan akan dilakukan pukul 08.30 WIB oleh Menteri ESDM Ignasius Jonan.

Kabar yang diterima Eksplorasi.id, salah satu pejabat yang akan mengalami rotasi adalah Djoko Siswanto. Saat ini, Djoko duduk sebagai deputi Pengendalian Pengadaan SKK Migas.

“Djoko akan menjadi dirjen (direktur jenderal) Migas Kementerian ESDM menggantikan posisi Plt dirjen Migas sebelumnya yang dipegang oleh Ego Syahrial yang merangkap sebagai sekretaris jenderal Kementerian ESDM,” kata sumber Eksplorasi.id di Jakarta, Selasa (27/3) malam.

Sekedar informasi, pada medio Januari 2018, proses lelang jabatan dirjen Migas menyisakan empat kandidat, setelah dua kandidat lainnya, Agus Cahyono Adi dan Umi Asngadah, gugur ke tahap selanjutnya.

Agus Cahyono saat ini duduk sebagai kepala Biro Perencanaan Sekretariat Jenderal Kementerian ESDM. Sementara Umi Asngadah adalah kepala Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Ketenagalistrikan, Energi baru, Terbarukan dan Konservasi Energi.

Sedangkan empat nama yang masuk ke tahap berikutnya adalah, Djoko Siswanto, Ediar Usman, Susyanto dan Tunggal. Tiga orang merupakan pejabat di Kementerian ESDM dan satu orang pejabat di SKK Migas.

Pejabat yang berasal dari Kementerian ESDM adalah, Tunggal (direktur Pembinaan Usaha Hulu Migas), Susyanto (sekretaris Direktorat Jenderal Migas Kementerian ESDM), dan Ediar Usman (direktur Pembinaan Program Mineral dan Batubara Kementerian ESDM.

Adapun Djoko Siswanto merupakan deputi Pengendalian Pengadaan SKK Migas. Sebelum menjabat sebagai deputi di SKK Migas, dia pernah didapuk sebagai direktur Teknik dan Lingkungan Kementerian ESDM.

Djoko diangkat sebagai deputi di SKK Migas berdasarkan Peraturan Menteri ESDM No 17/2017 tentang Organisasi dan Tata Kerja SKK Migas.

Struktur baru SKK Migas terdiri atas sembilan perangkat yakni kepala SKK Migas, wakil kepala, sekretaris, pengawas internal, deputi Perencanaan, deputi Operasi, deputi Keuangan dan Monetisasi, deputi Pengendalian Pengadaan, dan deputi Dukungan Bisnis.

Jika mengacu struktur sebelumnya, ada satu deputi yang dihapus yakni deputi Pengendalian Komersial. Sebagai gantinya adalah deputi Pengendalian Pengadaan yang dipegang Djoko Siswanto.

Tugasnya mengelola pengadaan barang dan jasa, rantai suplai, tingkat komponen dalam negeri, pengawasan dan analisis biaya, serta pengelolaan aset barang milik negara yang dikelola oleh kontraktor.

Berdasarkan catatan Eksplorasi.id, Djoko Siswanto cukup matang di sektor migas. Pria lulusan Teknik Perminyakan ITB ini sangat akrab dengan hal yang sifatnya sangat teknis.

Salah satu bidang yang sangat dinikmatinya adalah menghitung besaran biaya angkut (toll fee) gas dari satu tempat ke tempat lainnya. Bahkan, Djoko Siswanto meraih gelar doktornya dengan disertasi yang mengangkat topik tentang toll fee.

Djoko di almameternya merupakan lulusan pertama yang sukses menuntaskan pendidikannya dalam tempo empat tahun. Sebuah prestasi yang amat jarang untuk ukuran kampus sekelas ITB.  Djoko masuk ke jurusan Teknik Perminyakan pada 1986 dan lulus 1990.

Dia juga pemegang gelar master dari Inggris dengan spesialisasi manajemen minyak dan gas pada 2002. Djoko pun menjadi orang pertama Indonesia yang meraih gelar itu.

Ketika lulus S1, Djoko pernah bekerja di perusahaan swasta sebelum akhirnya memutuskan bergabung ke BPH Migas. Saat ini dia punya pemegang gelar doktor perminyakan dari ITB pada 2011.

Karir Djoko di BPH Migas terbilang kinclong. Sejumlah jabatan strategis pernah dipegangnya. Sebut saja saja sebagai direktur BBM, direktur Gas, serta sekretaris BPH Migas.

Djoko lalu ditarik ke Ditjen Migas dengan jabatan direktur Pembinaan Hulu Migas dan terakhir menjabat direktur Teknik dan Lingkungan, sebelum ditarik ke SKK Migas.

Salah satu prestasi kinclong seorang Djoko Siswanto adalah ketika menjadi anggota Pokja Direktorat BBM pada 2004, yang bersama tim BPH Migas mampu menyelamatkan uang negara sekitar Rp 4 triliun dari subsidi BBM periode 2005-2006.

Reporter: HYN

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Popular

To Top
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com