MIGAS

Kejar Produksi 2.045 MBOE Per Hari Pertamina Bahas Teknologi Hulu

Ilustrasi sumur minyak. | Foto : Istimewa.

Ilustrasi sumur minyak. | Foto : Istimewa.

Eksplorasi.id – Pekerja PT Pertamina (Persero) terutama Direktorat Hulu menggelar Forum Sharing Teknologi Hulu (FSHT) keempat.

Tujuan digelarnya acara tersebut untuk meningkatkan cadangan dan produksi migas.

Direktur Utama Pertamina Elia Massa Manik di Makassar, Senin (24/7), mengatakan, forum ilmiah ini untuk menghasilkan temuan baru di bidang teknologi hulu.

“Saya berharap temuan baru tersebut bisa dimplementasikan secara praktis di blok-blok migas Pertamina,” kata dia.

Selain itu, imbuh dia, forum ilmiah tersebut bisa menjadi sarana sosialisasi kebijakan dan rencana implementasi aspirasi hulu Pertamina pada 2030.

“Misalnya, meningkatkan produksi migas menuju 2.045 mboe (one thousand barrels of oil equivalents) per hari dan Geothermal Road to 2.300 MW,” jelas dja.

Massa Manik pun berharap FSHT dapat mendukung peningkatan produksi dan cadangan migas.

Caranya, dengan menciptakan sinergi  Direktorat Hulu, Anak Perusahaan Hulu (APH) serta direktorat lainnya untuk  mewujudkan visi dan misi Pertamina menjadi perusahaan energi nasional berkelas dunia.

“Angka cadangan P1 hingga 2016 sebesar 2.7 bboe (billion barrel of oil equivalent). Pada awal 2017 kegiatan eksplorasi Pertamina Hulu berhasil menemukan cadangan baru dari sumur Parang-1 (PHE Nunukan) sebesar 126 mmboe (million barrel of oil equivalent) untuk 2C,” ujar dia.

Kemudian, lanjut dia, untuk Haur Gheulis dari Sumur Haur Gede-1 dengan estimasi cadangan 14 mmbo (2C).

“Forum semacam ini akan mempercepat peningkatan kemampuan dalam penerapan teknologi yang efektif dan efisien, baik dalam bisnis migas maupun energi alternatif lainnya,” kata Massa Manik.

Menurut Massa Manik, FSTH bisa menjadi muara dari seluruh aktivitas kegiatan eksplorasi dan produksi migas, energi baru dan terbarukan serta geotermal.

“Perlu juga dibangun sinergi dan kolaborasi antara anak usaha di Direktorat Hulu, yang terdiri dari delapan APH, dan didukung Direktorat Pemasaran, Direktorat Pengolahan, HSSE, Universitas Pertamina serta perusahaan–perusahaan kelas dunia dalam bidang teknologi,” ujarnya.

Direktur Hulu Pertamina Syamsu Alam menambahkan, selain eksplorasi yang terbukti menghasilkan hidrokarbon, pada  2017 masih akan dibor sebanyak tujuh sumur oleh PHE.

Ketujuh sumur itu adalah, KKX-1 (ONWJ), N-7 (WMO), Kumis-2 (Siak), Kotalama-3 (Siak), Karunia-1 (Abar), SE Sembakung-1 (Simenggaris), dan NEB Ext-1 (Jabung) dengan total perolehan 59 mmboe (2C) dan PEP masih akan bor enam sumur eksplorasi dan diperkirakan empat sumur selesai dengan estimasi 80 mmboe (2C).

“Beberapa kegiatan eksplorasi telah ditindaklanjuti menjadi POD seperti di Badik dan West Badik (PHE Nunukan), PHE Randugunting juga sudah beralih dari eksplorasi ke development,” jelas dia.

Syamsu Alam berkomentar, realisasi produksi migas dari 2014 hingga 2016 meningkat, di mana pada 2014 produksi migas sebesar 549 kboepd (killo barrels oil equivalent per day) meningkat 11 persen menjadi 607 kboepd.

Pada 2016, terang dia, produksi kembali meningkat tujuh persen menjadi 650 kboepd. Sementara realisasi produksi migas pada semester pertama 2017 sebesar 692 kboepd naik lebih delapan persen bila dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

“Tahun ini produksi melebihi target RKAP (Rencana Anggaran Kerja Perusahaan) sebesar 685 kboepd. Ini menunjukkan, Pertamina berkomitmen memenuhi target produksi migas nasional,” kata Syamsu Alam.

Sedangkan untuk realisasi kapasitas terpasang geotermal, dari 2014 hingga 2016 meningkat 15 persen, di mana pada 2014 sebesar 402 MW (megawatt) menjadi 437 MW pada 2015 dan pada 2016 meningkat menjadi 532 MW.

Realisasi kapasitas terpasang geotermal pada 2017 sebesar 587 MW masih lebih rendah dari RKAP 2017 yang sebesar 617 MW.

Keterangan Syamsu Alam, FSTH ini sangat relevan dilaksanakan di tengah harga minyak yang belum kembali normal. Pasalnya, banyak lapangan-lapangan di Indonesia cenderung sudah matang, membutuhkan teknologi yang tepat guna yang bisa dioperasionalkan untuk optimalisasi produksi migas dan geotermal.

Sekedar informasi, FSTH yang mengambil tema: ‘Let’s Make Upstream Rising Up to Secure National Energy : Broader, Further and Deeper’ dimaksudkan untuk mendukung peningkatan poduksi dan cadangan migas.

Forum yang diselenggarakan Upstream Technology Center Pertamina sejak 2010 ini, dilaksanakan secara berkala setiap dua tahun sekali, pada 2017 merupakan pelaksanaan FSHT yang keempat yang dilaksanakan di Makassar sejak 24-28 Juli 2017.

Sebelumnya, dari forum semacam ini telah dihasilkan beberapa temuan teknologi, antara lain UTC yang kini sedang dipatenkan sebagai teknologi pertabocsy, suatu teknologi untuk mengidentifikasi keberadaan hidrokarbon secara langsung dari thermal anomaly.

Selain itu, ada beberapa temuan di bidang pasif seismik, Drilling Mobile Apps yang berupa aplikasi engineering bidang pemboran dalam format aplikasi mobile yang sudah dipakai di seluruh dunia.

Dream well berupa drilling data base, sentralisasi data (PUDC) yang sudah memperoleh ISO 27001, pendirian Lab EOR, menerbitkan Pedoman Geohazard, Pedoman Keteknikan Reservoir dan Produksi serta Pedoman Operasi Drilling.

Reporter : Sam

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Popular

To Top
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com