MIGAS

Mafia Migas Bangkit Lagi karena Totok Nugroho Jadi SVP ISC, CERI: Itu Fitnah Keji!

Ilustrasi mafia migas. | Foto: Istimewa.

Ilustrasi mafia migas. | Foto: Istimewa.

Eksplorasi.id – Terlalu prematur dan terkesan ngawur bagi pihak yang menjustifikasi bahwa pengangkatan Totok Nugroho sebagai senior vice president (SVP) Integrated Supply Chain (ISC) PT Pertamina (Persero) sebagai pertanda mafia migas kembali berkiprah di ISC.

Hal itu ditegaskan Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI) Yusri Usman kepada Eksplorasi.id di Jakarta, Minggu (18/6). Sebelumnya, Totok resmi menjabat sebagai SVP ISC menggantikan Daniel Syahputra Purba pada Kamis (15/6).

“Apakah yang berkomentar nyinyir terhadap Totok tahu bahwa pengangkatan Totok pada awal 2015 sebagai managing director Pertamina Energy Services Pte Ltd (PES), disaat itu atas kebijakan direksi Pertamina yang baru dilantik,” kata dia.

PES merupakan anak usaha dari Pertamina Enegy Trading Ltd (Petral).

Kala itu, lanjut Yusri, tidak ada lagi proses tender pengadaan minyak mentah dan BBM di PES, karena sudah dipusatkan semua di ISC sejak awal 2015.

Menurut Yusri, sebaiknya kalau mau menilai itu harusnya menyeluruh dan lengkap dengan melihat sejarah Petral dari waktu ke waktu, sehingga tidak terpeleset menilai.

“Sehingga menjadi aneh alias gagal paham kalau ada anggapan Totok Nugroho bersingungan dengan mafia migas, karena dia ditugasi saat itu hanya untuk proses likuidasi Petral,” tegas dia.

Pendapat Yusri, jika ingin bicara soal keterlibatan dugaan mafia migas bangkit lagi dengan diangkatnya Totok sebagai SVP ISC karena dia pernah di Petral, hal itu merupakan fitnah keji. “Apakah yang memfitnah Totok juga tahu bahwa SVP ISC sebelumnya, Daniel Purba, juga pernah di Petral, yang merupakan ibduk usaha dari PES?” ujar dia.

Penjelasan Yusri, ketika Ari Hernanto Soemarno menjabat sebagai managing director Petral sejak 2003 hingga Agustus 2004, Daniel Purba menjabat sebagai wakilnya.

“Daniel Purba adalah mantan vice president Petral. Kenapa itu tidak disinggung juga oleh orang yang memfitnah Totok. Kenapa itu tidak dipersoalkan, apalagi ini yang bicara nyinyir soal Totok adalah mantan anggota Tim Anti Mafia Migas,” ujar dia.

Yusri menambahkan, bahkan kala Sudirman Said (menteri ESDM yang dicopot Presiden Jokowi) duduk sebagai SVP ISC, Daniel Purba menjadi anak buah Sudirman Said dengan jabatan sebagai VP ISC.

Kalau ingin bicara mafia migas, ungkap Yusri, sebenarnya tidak ada lagi proses tender pengadaan minyak mentah dan BBM di PES, karena semua sudah dipusatkan di ISC sejak awal 2015.

Penjelasan Yusri, jika mantan anggota Tim Anti Mafia Migas tersebut memahami proses bisnis hubungan antara Petral dengan ISC, maka saat ini sesungguhnya semua kendali itu berada di ISC.

“Oleh karena itu keberadaan fungsi ISC dalam bagan struktur Pertamina berada langsung di bawah direktur utama. Artinya perintah dan tanggung jawabnya langsung ke dirut. Sehingga kalau benar ada mafia migas yang bermain, tentu fungsi ISC yang paling bertanggungjawab bersama dirut,” jelasnya.

Komentar dia, fungsi ISC saat itu di desain oleh direksi Pertamina untuk lebih mengoptimalkan tata kelola yang sebelumnya oleh masing-masing direktorat, yaitu Direktorat Pengolahan dan Direktorat Pemasaran dan Niaga bisa langsung mengorder minyak ke Petral.

“Ini yang menyebabkan sering terjadi inefisiensi berupa kelebihan pasokan dan kadang bisa terjadi juga kelangkaan. Itulah latarbelakang keberadaan ISC sebagai perencana pengadaan minyak mentah dan produk BBM,” ujarnya.

ISC, terang Yusri, juga punya wewenang yang memerintahkan Petral untuk melakukan tender. Bahkan ISC yang mengevaluasi dan memutuskan pemenang tender serta yang memegang owner estimad.

“Semestinya pergantian pejabat ISC itu dimaknai sebagai penyegaran dan promosi jabatan di tubuh Pertamina. Harapan kita sebaiknya ISC terus menjunjung proses bisnis yang semakin transparan dan fair serta langsung berhubungan dengan NOC dan kilang,” katanya.

Yusri berharap ke depan ISC jangan lagi berhubungan dengan para trader. “Kita tentu tidak boleh lupa bagaimana bisa terjadi kasus Meslah-Sarir Crude oleh Glencore pada medio 2016, di mana kedua kargonya utk Kilang Balikpapan dan Dumai ditolak ISC karena salah persentase blending yang terbalik,” ujarnya.

Reporter : Sam

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Popular

To Top
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com