MINYAK

Proyek Langit Biru Cilacap Alami Kendala di Lapangan?

Ilustrasi kilang. | Foto : Istimewa.

Ilustrasi kilang. | Foto : Istimewa.

Eksplorasi.id – Proyek Langit Biru yang dilakukan di Refinery Unit IV Cilacap semula diharapkan akan menjadi kelanjutan dari proyek Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) atau peningkatan kilang Cilacap.

Namun, saat ini kondisinya dikabarkan sedang mengalami kendala teknis pelaksanaan di lapangan. Sumber Eksplorasi.id mengungkapkan, proyek yang dikenal dengan nama Proyek Langit Biru Cilacap (PLBC) atau Cilacap Blue Sky Projec itu ada sedikit kendala teknis di lapangan yang saat ini sedang dilakukan upaya penyelesaiannya.

“Untuk menyelesaikan kendala tersebut sub kontraktor dari JGC Corporation sudah melakukan mobilisasi peralatan. Kendala tersebut adalah adanya rembesan air di area pengerjaan pondasi akibat diduga kebocoran dari pipa di kilang eksisting yang mengalir sampai area proyek. Kondisi itu tentunya jika tidak segera diatasi akan menghambat pekerjaan pembuatan pondasi,” kata sumber di Jakarta, akhir pekan lalu.

Penjelasan sumber, namun konon kendala tersebut saat ini sudah dilakukan pengamanan terhadap melebarnya rembesan air dan pekerjaan persiapan pondasi sudah bisa dimulai kembali.

“Jika kendala tersebut bisa diatasi, maka target kesiapan pondasi untuk mulai ditempatkannya peralatan unit proses pada Agustus 2017 kemungkinan masih bisa dicapai,” jelas sumber.

Menurut sumber, dengan adanya kejadian tersebut, walaupun agak sedikit mengganggu jadwal pelaksanaan, tapi diharapkan secara milestone tahapan pengerjaan proyek masih bisa tetap dikendalikan.

Diminta komentarnya, Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI) Yusri Usman mengatakan, persoalan tersebut mesti segera dituntaskan agar ditemukan di mana letak kesalahannya yang menyebabkan kerugian bagi Pertamina dan dicari solusi terbaik.

“Jangan sampai PLBC tertunda lama alias gagal. Proyek itu harus tetap berjalan karena menyangkut ketahanan energi nasional. Jangan sampai nasib PLBC sama seperti proyek revitalisasi kilang lainnya yang tidak terdengar kabarnya hingga sekarang. Tentu bisa diduga ini bagian permainan mafia migas agar impor produk BBM tetap berlangsung terus,” kata dia.

Sekedar informasi, PLBC merupakan salah satu proyek peningkatan spesifikasi gasoline dari semula RON 88 menjadi RON 92. Sehingga produk yang dihasilkan kilang terbesar di Indonesia tersebut merupakan BBM yang ramah lingkungan. Proyek ini disebut proyek langit biru karena produknya ramah lingkungan sesuai dengan standar Euro IV.

JGC Corporation ditunjuk Pertamina sebagai kontraktor utama engineering, procurement, and construction dari proyek tersebut pada 26 November 2015. Kala itu, penandatanganan penetapan kontrak dilakukan oleh Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto, Chairman Emeritus JGC Corporation Yoshihiro Shigehisa, dan Presiden Direktur Encona Inti Industri YB Haryono.

Proyek itu ditargetkan rampung dalam 34 bulan sejak penandatanganan kontrak. Ada tiga kegiatan utama dalam pekerjaan berdasarkan kontrak tersebut. Pertama, melakukan revamping dengan mengubah pola operasi Unit Platforming I dari fix bed catalyst menjadi continuous catalyst regeneration.

Kedua, membangun unit baru berupa Light Naphtha Hydro treating dan Isomerization dengan kapasitas 21.500 barel per hari. Ketiga, pembangunan unit baru berupa utilitas dan offisite. Proyek yang memakan investasi senilai USD 392 juta tersebut ditargetkan mampu mendorong kapasitas produksi RON 92 Refinery Unit IV sebesar 91 ribu barel per hari.

Situs resmi Pertamina pada 2 September 2016 pernah menulis, sebagai salah satu proyek yang besar dan strategis, PLBC telah memasuki fase konstruksi minggu ke-17 dari keseluruhan jangka waktu yang sudah direncanakan. Pada fase ini, pekerjaan yang sedang berjalan meliputi demolition work, site grading serta trial excavation di area Axen, FOC 1 dan area Utilities serta area Temporary Facility.

Pekerjaan tersebut meliputi pembersihan lahan dari scraft, mengecek kondisi tanah dari bahan-bahan yang sudah tertanam sebelumnya, pemadatan tanah serta penebangan pohon di sekitar area pembangunan PLBC. Salah satu pekerjaan demolation yang berhasil dilaksanakan adalah melakukan pemindahan N2 Storage di area FOC 1 dengan menggunakan dua crane.

Sebelum dilakukan pemindahan, terlebih dahulu dilakukan analisa tentang metode kerja untuk memastikan keselamatan dan keamanan saat pemindahan tersebut. Di samping itu, telah dilaksanakan penerimaan material tiang pancang perdana di area Off Site Laydown 13 RU IV Cilacap berjumlah 320, di mana pemancangan perdana rencananya akan dilaksanakan pada minggu kedua September 2016 di area Axen RU IV Cilacap.

Pemancangan ini merupakan tindak lanjut yang sangat baik dalam fase konstruksi PLBC. Persiapan sudah tampak dengan kedatangan spun pile dan mesin piling yang sudah berada di area Axen. PLBC didukung oleh 310 orang pekerja baik dari Pertamina, main-con maupun sub-con yang di tempatkan di berbagai area kerja. Hingga akhir Agustus 2016, telah terlaksana jam kerja aman dengan jumlah total owner/Pertamina 69.030 jam dan kontraktor 464.837 jam.

Massa Bertemu Jokowi?
Di sisi lain, Direktur Pertamina Elia Massa Manik sebelum memasuki awal Ramadan dikabarkan pernah menghadap Presiden Joko Widodo.

Massa konon melaporkan kepada kepala negara bahwa megaproyek Refinery Development Masterplan Program (RDMP) alias pengembangan kilang yang sebelumnya telah ada serta Proyek Grass Root Refinery (GRR) atau pembangunan kilang baru jadwal penyelesaiannya dikembalikan ke jadwal normal pembangunan kilang yang lebih feasible dalam hal pendanaannya.

Eksplorasi.id belum mengkonfirmasi kebenaran kabar tersebut kepada pihak Pertamina. Adapun proyek yang dimaksud, berdasarkan catatan Eksplorasi.id misalnya, proyek RDMP Cilacap yang akan dikerjakan Pertamina bersama Saudi Aramco dan diperkirakan akan on stream tahun 2023.

Kedua perusahaan itu telah menetapkan kontrak engineering and project management services untuk pelaksanaan studi basic engineering design (BED) untuk program kerja sama kedua perusahaan dalam RDMP Cilacap kepada Amec Foster Wheeler Energy Limited. Kontrak telah diteken oleh Vice President of International Operations Saudi Aramco Said Al-Hadrami dan Direktur Pengolahan Pertamina Rachmad Hardadi pada 2016.

Penandatanganan tersebut sebagai kelanjutan dari Heads of Agreement (HoA) yang sebelumnya telah ditandatangani oleh kedua pihak pada November 2015. Kemudian, New Grass Root Refinery (NGRR) Tuban yang ditargetkan on stream pada tahun 2024. Rachmad Hardadi pada Januari 2017 pernah berkomentar, sesuai dengan jadwal, saat ini proses pemilihan licensor untuk RDMP RU IV dan NGRR Tuban sedang dilakukan untuk mendapatkan teknologi yang sangat menentukan keekonomian dan keandalan.

Proses ini, katanya, menentukan ketepatan waktu pelaksanaan proses selanjutnya yaitu front end design (FEED) dan konstruksi (EPC). Sebanyak 30 perusahaan akan bersaing untuk menjadi licensor pada proyek NGRR Tuban. Adapun, posisi licensor pada proyek RDMP RU IV Cilacap diperebutkan oleh sebanyak 15 perusahaan dan akan selesai di Q3 2017.

Pertamina waktu itu dalam proses penyelesaian Bankable Feasibility Study (BFS) dan pelaksanaan AMDAL proyek NGRR Tuban yang ditargetkan selesai pada Juli 2017. Adapun, proyek RDMP Cilacap konon masuk proses penyelesaian basic engineering design study (BEDS) yang ditargetkan pada Maret 2017, sedangkan AMDAL selesai pada Juli 2017.

Reporter : Sam

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Popular

To Top
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com