MIGAS

Jokowi Pastikan Blok Masela Berproduksi Delapan Tahun Lagi

Presiden Jokowi (tengah) dan Menteri ESDM Ignasius Jonan (kiri) serta Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar (kanan). | Foto: Istimewa.

Eksplorasi.id – Blok Masela dipastikan akan beroperasi secara komersial pada 2027 atau delapan tahun lagi. Hal itu diungkapkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) melalui akun Instagram-nya, Kamis (18/7).

Jokowi mengatakan, Blok Masela akan memberi kontribusi bagi perekonomian Indonesia. “Sesuai laporan SKK Migas, target produksi Blok Masela akan dimulai pada 2027. Indonesia akan menerima selain porsi besar dari proyek ini, juga dampak gandanya, seperti industri petrokimia yang juga dibangun mengikuti proyek Blok Masela.”

Penjelasan Jokowi, pengembangan proyek Blok Masela telah memeroleh persetujuan pemerintah. “Rencana pengembangan Blok Masela yang termasuk di dalamnya soal kandungan lokal dan penggunaan tenaga kerja asli daerah setempat telah pula disepakati,” ujar dia.

Sebelumnya, Menteri ESDM Igantius Jonan, Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto, dan direksi dari Inpex telah melapor ke Jokowi soal Blok Masela ke Istana Negara, Selasa (16/7).

Belum lama ini, CEO Inpex Corporation Takayuki Ueda menerangkan, Inpex mengklaim proyek Lapangan Abadi di Blok Masela akan memberikan efek berganda (multiplier effect) bagi Indonesia hingga USD 153 miliar atau setara Rp 2.142 triliun (kurs Rp 14.000) hingga akhir fase produksi pada 2055.

Klaim tersebut berdasarkan hasil kajian yang dilakukan oleh Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) dan Universitas Pattimura Ambon (UNPATTI).

Menurut dia, setelah persetujuan revisi rencana pengembangan (plan of development/ PoD), pihaknya akan melangkah ke tahap selanjutnya yakni proses rekayasa awal atau Front End Engineering Design (FEED).

Lalu akan disusul dengan keputusan final investasi atau Final Investment Decision (FID). “FEED-nya akan dimulai pada 2020, biasanya memakan waktu sekitar 2-3 tahun untuk penyelesaian, setelahnya baru kami akan memproses FID, sekitar 3-4 tahun dari sekarang.”

Di satu sisi, imbuh dia, Inpex kini sedang mencari skema pendanaan yang cocok untuk membiayai proyek raksasa ini. Salah satu yang menjadi pertimbangan adalah skema Trustee Borrowing Scheme (TBS).

Dengan dimulainya proyek ini, hitungan yang sudah pasti Indonesia akan menerima sekitar USD 39 miliar dan Inpex sekitar USD 37 miliar. Angka tersebut sudah termasuk 10 persen milik daerah, sehingga Inpex dan Shell hitungannya bisa terima USD 33,3 miliar. Porsi RI tersebut dinilai cukup signifikan.

Reporter: Sam

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Popular

To Top
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com