BERITA

PinmID: Kami Tetap Semangat Berjuang Menentang Industri Kelapa Sawit

Eksplorasi.id – Saat ini, Indonesia adalah negara yang memproduksi kelapa sawit terbesar di dunia. Dalam perjalanan menuju pencapaian titel tersebut, Palm Is Not My ID (PinmID) mencatat lebih dari sembilan juta hektar hutan hujan telah ditebang.

“Penebangan hutan tropis ini bukan hanya mengancam kepunahan habitat alami satwa liar, tetapi juga tanah leluhur dan tempat penghidupan masyarakat lokal,” tulis PinmID dalam siaran persnya yang diterima Eksplorasi.id, Selasa (20/8/2019).

PinmID percaya bahwa perampasan tanah merupakan hal yang biasa ketika perusahaan minyak kelapa sawit dengan rakus mengambil hak tanah dari penduduk desa yang tidak berpendidikan.

“Lebih buruk lagi, perusahaan-perusahaan itu secara ilegal mengosongkan lahan mereka dengan teknik tebang-dan-bakar yang kemudian menghasilkan kabut asap dan memperburuk kualitas udara bagi masyarakat di wilayah tersebut,” tulisnya lagi.

PinmID juga menyatakan daftar korban dalam industri ini tidak ada habisnya: penduduk desa, anak-anak, lingkungan, orangutan, gajah, badak dan banyak lagi.

Sementara, menurut PinmID, para oknum pejabat meraih keuntungan tak pantas yang terus meningkat dari ekspor minyak kelapa sawit.

Bulan Juli, para aktivis dari PinmID telah merambah ranah internasional dan memprotes industri minyak kelapa sawit di Phuket dan London. Pada 22 Juli, para aktivis PinmID, melakukan protes di Simposium Kerjasama Penerbangan Global ICAO (GACS) Ketiga yang diadakan di Phuket, Thailand.

Protes ini ditujukan pada rencana ICAO untuk berkolaborasi dengan Pemerintah Indonesia dalam rangka meningkatkan penggunaan minyak kelapa sawit dalam biofuel penerbangan menjadi 285 juta ton pada tahun 2050.

Pada 29 Juli, aktivis PinmID bekerja sama dengan aktivis hak-hak hewan juga melakukan protes terhadap deforestasi dan konsekuensi kepunahan orangutan di luar kantor Kedutaan Indonesia di London.

Aktivis PinmID bertekad akan terus aktif memprotes industri minyak sawit Indonesia dan telah melakukan aksi protes pada 17 Agustus dan dalam acara Animal Rights March di London pada 19 Agustus untuk peringatan Hari Orangutan Internasional di depan kantor Kedutaan Besar Indonesia di London.

 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Popular

To Top