MIGAS

Realisasi “Lifting” Jeblok, Ini Penjelasan SKK Migas

Fatar Yani Abdurrahman. | Foto: Istimewa.

Eksplorasi.id – Jebloknya realisasi lifting sejak beberapa tahun belakangan sangat dipengaruhi oleh apa yang dibuat dalam tujuh hingga 10 tahun yang lalu di sektor migas.

Pernyataan tersebut dilontarkan Wakil Kepala SKK Migas Fatar Yani Abdurrahman kepada Eksplorasi.id melalui pesan tertulis WhatsApp Messenger, Senin (6/1).

“Jadi kalau tidak dikerjakan untuk rencana pengembangannya (Plan of Development/POD), inilah dampak produksi sekarang,” jelas dia.

Dia menambahkan, apa yang pihaknya kerjakan sekarang baru bisa dilihat tujuh hingga 10 tahun mendatang.

“Kalau sekarang kami lebih ke firefighting kekurangan yang dikerjakan sebelum-sebelumnya. Contoh, kalau dulu orang tidak berani minta POD Blok Sakakemang di Musi Banyuasin langsung setelah discovery,” ujar dia.

Menurut Fatar, sekarang pihaknya memaksa dengan early production dalam dua tahun dari discovery sudah bisa onstream dan menambah lifting.

“Ini oil and gas upstream namanya. Beda dengan downstream bisnisnya. Kalau kilang ada tinggal cari feedstock di mana saja. Kalau hulu, feedstock-nya tidak kelihatan dan penuh uncertainty,” terang Fatar.

Penjelasan dia, perlu dicatat juga, orang yang membuat program tujuh hingga 10 tahun yang lalu juga tidak bisa berbuat apapun kalau tidak ada discovery.

“Sementara untuk chance of success medium to giant discovery itu sangat kecil kecuali di Timur Tengah. Contoh lain adalah Blok Masela. Kalau hari ini kami tidak berani membuat keputusan, tujuh atau 10 tahun lagi tidak ada itu produksi Masela,” tegas dia.

Fatar Yani menekankan, target satu juta barel per hari itu tidak mungkin tercapai dalam waktu besok atau tahun depan seperti kita membuat pabrik garmen.

“Itu minimal juga tujuh hingga 10 tahun lagi hasilnya. Dengan catatan untum eksplorasi harus masif, berani dan ‘beruntung’,” terangnya.

Fatar juga memberi contoh lainnya. Waktu pihaknya mengeksplorasi Blok Makasar Straits pada 2010-2012, banyak perusahaan besar terlibat seperti ExxonMobil, Statoil, Takusman dan Total, serta Hess dengan eksplorasi yang agresif.

“Tapi nasih kamu belum beruntung sehingga tidak ada discoveries. Eksplorasi Blok Semai II dan Semai V juga dry hole. Coba ada satu saja yang besar, hari ini lifting kita tidak sejelek yang kita rasakan sekarang,” ungkap dia.

Reporter: HYN

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Popular

To Top