OPINI

Strategi Mencapai Target Produksi Minyak Satu Juta Barel Per Hari

Eko Setiadi. | Foto: Istimewa.

Eksplorasi.id – Pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menginginkan percepatan realisasi produksi minyak satu juta barel per hari (bph), dari semula pada 2030 untuk dicapai pada 2025.

Apabila target ini segera terealisasi, tentu akan mengurangi beban impor minyak yang menjadi faktor utama defisit neraca perdagangan sektor migas selama ini. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan sepanjang 2019 mengalami defisit sebesar USD 3,2 miliar.

Defisitnya neraca dagang pada 2019 disebabkan oleh sektor migas yang masih defisit sebesar USD 9,3 miliar. Adapun neraca dagang nonmigas masih tercatat surplus. Terdapat perbaikan apabila dibandingkan 2018 yang defisitnya mencapai USD 8,69 miliar.

Adanya perbaikan ini disebabkan oleh penurunan impor maupun ekspor minyak dan gas Indonesia disepanjang 2019. Defisit migas menjadi topik yang hangat setelah Presiden Joko Widodo dalam beberapa kesempatan mengungkapkan kekesalannya.

Kepala negara menyebut berulangnya defisit tersebut lantaran ada pihak-pihak yang lebih senang mengimpor dan menghambat transformasi ekonomi dalam negeri, khususnya di sektor energi.

Dalam acara ‘Pembukaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional RPJMN 2020-2024’, Jokowi menyoroti impor minyak yang mencapai 700 ribu-800 ribu bph dan impor avtur untuk keperluan dalam negeri.

Padahal, crude palm oil (CPO) dalam negeri bisa dimanfaatkan untuk produksi avtur.  Jokowi juga mempertanyakan upaya menggenjot produksi minyak dari sumur-sumur yang ada.

Kondisi Sektor Migas
Defisit antara produksi dan konsumsi minyak mentah Indonesia makin membesar dari tahun ke tahun. Berdasarkan publikasi BP Statistical Review 2019, surplus minyak mentah Indonesia terakhir terjadi sebesar 100 ribu bph pada 2002, yakni dengan produksi 1,3 juta bph dan konsumsi 1,2 juta bph.

Pada 2005, Indonesia defisit 200 ribu bph, meningkat menjadi 400 ribu bph pada 2010 dan terus meningkat hingga defisit satu juta bph pada akhir 2018. Faktanya, sejak 1990 laju penurunan alamiah (decline rate) sebesar lima persen per tahun.

Pada 2010, produksi minyak sempat mencapai 945 ribu bph, namun terus menurun.  Realisasi lifting minyak pada 2019 mencapai 746 ribu bph atau 96,3 persen dari APBN 2019 sebesar 775 ribu bph dan realisasi lifting gas mencapai 5.934 mmscfd atau hanya 84,8 persen dari target APBN 2019 sebesar 7.000 mscfd (data ESDM).

Dari kemampuan produksi 746 ribu bph pada 2019 menuju satu juta bph pada 2025, berarti mutlak membutuhkan pertumbuhan produksi sebesar enam persen per tahun. Langkah selanjutnya adalah merumuskan strategi apa dan bagaimana langkah konkrit untuk menggenjot pertumbuhan produksi seperti yang ditargetkan presiden.

Ini sungguh tantangan yang tidak mudah sekaligus menarik. Mengapa? Karena tren produksi selama 30 tahun terakhir terus menurun, namun kemudian dituntut untuk rebound. Itu pun dalam waktu yang amat singkat, lima tahun!

Sesungguhnya, performance menurunnya produksi minyak saat ini merefleksikan kondisi sektor hulu migas nasional. Kementerian ESDM menyatakan bahwa pada 2019 cadangan minyak Indonesia mencapai 3.775 miliar barel dan gas 77 triliun kaki kubik.

Apabila tidak ada kegiatan pencarian cadangan minyak dan gas baru, dengan tingkat produksi produksi minyak sebesar 745 ribu bph dan 1,28 juta barel setara minyak, maka cadangan minyak Indonesia atau reserves to production ratio (R/P) hanya cukup 9,2 tahun lagi, sedangkan gas cukup sampai  21,8 tahun ke depan.

SKK Migas mencatat rasio penggantian cadangan migas atau reserve replacement ratio (RRR) di Indonesia mencapai 354 persen pada 2019, naik dibanding 2018 yang mencapai 106 persen, sedangkan sejak 2012, RRR migas selalu di bawah 100 persen.

Lebih dari 70 persen produksi migas di Indonesia yang dihasilkan saat ini berasal dari lapangan tua (mature) berusia di atas 20 tahun. Selain itu, jeda waktu yang diperlukan dari tahap eksplorasi sampai produksi (discovery to commercial) dapat mencapai 10 hingga 15 tahun.

Dari potret sektor hulu migas di atas, maka dapat dirumuskan beberapa tantangan utama yang harus diselesaikan, yaitu, penurunan laju tingkat produksi migas, naik turunnya harga minyak yang mempengaruhi keekonomian proyek hulu migas, risiko menurunnya investasi terkait perubahan fiscal term (gross split), urgensinya teknologi baru, kapabilitas dan infrastuktur, dan kebutuhan investasi yang sangat besar sampai 2025.

Berdasarkan outlook produksi minyak (baseline) di 453 ribu bph, yang dibandingkan dengan target satu juta bph pada 2025, terdapat selisih 547 ribu bph. Poin yang menarik adalah, dengan asumsi pertumbuhan konsumsi sekitar lima persen, maka pada 2025, kebutuhan minyak mentah nasional mencapai 2,3 juta bph.

Meskipun target produksi satu juta bph tercapai, masih memerlukan 1,3 juta bph lagi. Di sinilah peran pemerintah mendorong berbagai terobosan seperti substitusi dan konversi BBM berbasis fosil seperti program B20, B30 dan B100, penggunaan kendaraan listik dan menggenjot implementasi energi baru dan terbarukan.

Upaya Strategis
Dari kondisi sektor hulu migas di atas, maka dapat dirumuskan framework langkah strategis menggenjot produksi minyak nasional, yang terdiri dari langkah strategis jangka pendek (0-5 tahun), jangka menengah (5-10 tahun) dan jangka panjang.

Langkah strategis jangka pendek, upaya konkrit yang dapat dilakukan menaikkan produksi minyak secara drastis adalah memaksimalkan potensi reservoir dengan mengoptimalkan produksi dari lapangan eksisting, melalui kegiatan workover dan well services, menjaga kehandalan fasilitas produksi, upgrade production plant facility, meminimalisir production loss dan unplanned shutdown.

Kemudian, manajemen reservoir yang cermat, reaktivasi sumur dan menjaga kehandalan transportasi melalui pipeline integrity. Mempercepat produksi dari sumur-sumur infill, on stream produksi dari proyek pengembangan yang sedang dilakukan, monetisasi minyak di lapangan yang stranded dan marginal, percepatan produksi sumur-sumur penemuan (eksplorasi) melalui mekanisme Put On Production.

Termasuk juga pembangunan kilang minyak mini dari lapangan migas yang lokasinya terpencil dan jauh dari infrastruktur migas eksisting – refinery plant.

Langkah strategis jangka menengah, upaya konkrit yang dapat dilakukan adalah akselerasi resources-reserves movement melalui mekanisme penentuan status eksplorasi ke fase development. Akselerasi monetisasi melalui percepatan plan of development, on stream dari proyek pengembangan dengan terobosan solusi pada proyek yang masih menghadapi hambatan baik operasional maupun non teknis.

Kemudian, optimalisasi secondary recovery melalui kegiatan waterflood. Berikutnya, menggenjot produksi melalui pengembangan enhanced oil recovery (EOR)/improved oil recovery (IOR) secara full scale. Pada tahapan awal produksi (primary recovery), setidaknya terdapat sekitar 15 persen-30 persen minyak di reservoir yang dapat diproduksikan secara natural flow serta artificial lift.

Selanjutnya produksi minyak dapat ditingkatkan melalui teknik EOR yang merupakan tertiary recovery, di mana  produksi secara teoritis dapat ditingkatkan hingga mencapai 40 persen-70 persen. Dengan menggunakan teknologi EOR yang paling sesuai dan keekonomian proyek EOR yang feasible. Menurut perhitungan Kementerian ESDM, masih terdapat potensi 1,6 miliar barel minyak yang bisa dioptimalkan.

Langkah strategis jangka panjang, memastikan pertumbuhan produksi dan peningkatan sumber daya migas yang berkelanjutan (sustainability growth), melalui kegiatan eksplorasi yang massif. Tanpa eksplorasi yang agresif, cadangan migas nasional tidak akan cukup memenuhi kebutuhan di masa yang akan datang.

Persoalan ini mengancam kemandirian energi nasional dalam jangka panjang. Upaya strategis yang dapat segera dilaksanakan adalah, fokus pada utilisasi potensi penambahan cadangan migas nasional sejumlah 5,2 miliar barel minyak ekuivalen (2,7 miliar barel minyak dan 14 TCF Gas) dari sumur-sumur penemuan migas (discovery) yang sudah terbukti lewat tes berisi kandungan hidrokarbon, akan tetapi belum ditingkatkan statusnya menjadi cadangan nasional.

Juga prioritas akselerasi kegiatan eksplorasi pada target berupa prospek-prospek dari berbagai KKKS yang telah dibor dan ada indikasi migas tetapi tidak dites sejumlah 16,6 miliar barel minyak ekuivalen dari 120 struktur (Komite Eksplorasi Nasional, 2016).

Apabila kedua langkah ini dilaksanakan, akan meningkatkan cadangan migas dan siap diproduksikan pada 10 tahun mendatang. Potensi migas di Indonesia pada dasarnya masih cukup besar. Namun masih terdapat setidaknya tiga tantangan strategis yang harus segera diselesaikan, antara lain: diperlukan konsep-konsep eksplorasi yang baru, evaluasi regional dan terintegrasi, speculative survey di open area untuk menggairahkan eksplorasi migas, dikelola oleh pemerintah melalui SKK Migas dan Pertamina, dan diperlukannya terobosan kebijakan fiscal term yang lebih menarik untuk eksplorasi di open/frontier area dan deepwater area.

Beberapa langkah strategis di atas, sesungguhnya tidak bisa dilaksanakan at any cost. Ada boundary limit yang spesifik sesuai dengan karakteristik masing-masing kegiatan. Pada kegiatan eksploitasi, yang menjadi indikator adalah biaya produksi dan biaya operasi.

Perusahaan minyak dituntut untuk efisiensi biaya produksi jauh di bawah harga jual minyak mentah, sehingga dapat memaksimalkan profit. Pada kegiatan pengembangan proyek, yang menjadi konsen adalah development cost, IRR, net present value dan profitability index atau juga dikenal sebagai profit investment ratio (PIR), yaitu rasio laba yang dihasilkan dibandingkan dengan nilai investasi proyek yang diusulkan.

Pada kegiatan eksplorasi, finding cost menjadi indikator yang penting, yaitu berapa biaya yang dikeluarkan untuk menemukan satu barel minyak. Oleh karena itu, untuk mengoptimalkan tingkat keekonomian, maka diperlukan terobosan kebijakan seperti adanya insentif fiscal, tax holiday, dan beragam inovasi regulasi lainnya.

Patut menjadi catatan, berbagai upaya strategis tersebut tidak akan mungkin terlaksana tanpa adanya investasi. Investasi sektor hulu migas memiliki dua karakteristik utama. Pertama, membutuhkan investasi yang besar baik pada tahap eksplorasi dan eksploitasi.

Kedua, masa pengembalian investasi dalam jangka waktu sangat panjang. Sehingga adanya kepastian, baik kepastian regulasi, kepastian proses bisnis dan kegiatan operasi, serta kepastian tingkat pengembalian investasi, adalah faktor yang sangat penting bagi investor.

Semua tantangan dan langkah strategis di atas apabila segera diimplementasikan diharapkan mampu memperkuat kemandirian energi, yaitu terjaminnya ketersediaan energi dengan memanfaatkan semaksimal mungkin semua potensi sumber daya domestik.

Tantangan berikutnya adalah, apabila sudah dilakukan upaya strategis, baik jangka pendek maupun jangka menengah, untuk mencapai target satu juta barel per hari pada 2025, namun realisasi masih di bawah target, langkah apa yang harus dilakukan?

Penulis mengusulkan strategi diplomasi energi yang selaras dengan kebijakan energi dan strategi geopolitik yang komprehensif.  Memastikan jaminan pasokan minyak dari luar negeri, melalui program “brings barrels home through Pertamina Incorporated” – produksi dari lapangan minyak di luar negeri di mana Pertamina berperan sebagai operator atau memiliki participating interest.

Minyak mentah yang diproduksikan tersebut dikirim dengan tanker Pertamina, diolah di kilang domestik, dan produknya dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan BBM nasional. Value creation dan pendapatan dari proses rantai bisnis ini mutlak menjadi devisa nasional.

Untuk itu, mutlak diperlukan dukungan pemerintah terhadap aksi korporasi Pertamina mengakuisi blok-blok migas prospektif di luar negeri. Semoga!

Oleh: Eko Setiadi*
*)Alumnus MBA Energy – Institut Teknologi Bandung

 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Popular

To Top