MINERAL

Cadangan Emas dan Tembaga di Grasberg Masih Tersisa 2,1 Miliar Ton

Ilustrasi butiran emas | Istimewa

Ilustrasi butiran emas | Istimewa

Eksplorasi.id – Cadangan emas dan tembaga di Tambang Grasberg, Papua, saat ini diprediksi masih tersisa sebanyak 2,1 miliar ron

Sejak kontrak karya (KK) lanjutan antara pemerintah Indonesia dengan PT Freeport Indonesia (PTFI) diteken pada 30 Desember 1991, PTFI telah mengeruk emas dan tembaga dari Grasberg sebanyak 1,7 miliar ton.

SVP Geo Engineering PTFI Wahyu Sunyoto mengatakan, cadangan tersebut merupakan yang tersisa jika PTFI terus melakukan penambangan hingga 2014.

“Cadangan emas dan tembaga di Grasberg baru akan habis pada 2054. Siapa pun yang akan mengoperasikan wilayah itu di kemudian hari masih ada cadangan,” kata dia, di sela acara diskusi Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), di Jakarta, Senin (20/3).

Penjelasan Wahyu, cadangan emas dan tembaga di Grasberg merupakan salah satu yang terbesar di dunia. Namun, pengambilan cadangan emas dan tembaga tersebut mesti dilakukan melalui berbagai upaya yang tidak mudah.

“Eksplorasi pertambangan di Papua sangat berisiko. Belum lagi soal lokasi yang pencil dan minim infrastruktur, serta tersembunyi di hutan dan pegunungan,” jelas dia.

Menurut Wahyu, ketika eksplorasi pertama kali di Papua dimulai tidak ada data sama sekali. Pihaknya memulai semua hal itu dari nol. “Pemerintah belum siap, yang ada hanya peta militer peninggalan Zaman Belanda,” ujar dia.

Dia menambahkan, wilayah pertambangan PTFI secara topografi sangat sulit, sehingga tidak mudah merancang infrastruktur untuk area penambangan.

“Tantangan utama eksplorasi di Papua adalah daerahnya yang sangat terpencil. Kami tidak bisa eksplorasi secara konvensional, harus memanfaatkan Helicopter Hoist Sampling Technique,” katanya.

Wahyu mengungkapkan, perlu modal besar untuk mengembangkan Tambang Grasberg di Papua. Bahkan, Freeport-McMoRan Inc selaku induk usaha PTFI mesti menjual sejumlah asetnya di seluruh dunia agar memiliki modal untuk berinvestasi di Grasberg.

“Investasi dalam skala besar untuk bisnis berisiko tinggi ini butuh stabilitas jangka panjang. Itulah kenapa PTFI ingin tetap mempertahankan KK,” ujarnya.

Reporter : Samsul

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Popular

To Top